WARTA 24 MALUKU

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Sertu Sanija, Pejuang Donor Darah Cirebon yang Peduli Talasemia

Posted by On 16.21

Sertu Sanija, Pejuang Donor Darah Cirebon yang Peduli Talasemia

Rabu 24 Januari 2018, 08:25 WIB Sertu Sanija, Pejuang Donor Darah Cirebon yang Peduli Talasemia Sudirman Wamad - detikNews Sertu Sanija, Pejuang Donor Darah Cirebon yang Peduli TalasemiaSertu Sanija/sFoto: Sudirman Wamad Cirebon - Sertu Sanija (45), salah seorang prajurit TNI memiliki jiwa sosial yang luar biasa. Seorang prajurit yang mendedikasikan hidupnya untuk aksi kemanusian, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan darah.
Sanija mulai mendonorkan darahnya saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Jika dihitung hingga sekarang, sudah 65 kali Sanija mendonorkan darahnya. Tugas kemiliteranny a menjadi Babinsa Desa Danamulya dan Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, yang berada di bawah naungan Koramil 2007 Plumbon dan Kodim 0620 Kabupaten Cirebon.

Sertu Sanija aktif membantu PMISertu Sanija aktif membantu PMI Foto: Sudirman Wamad

Saat ditemui detikcom Sanji tengah sibuk wara-wiri membantu PMI Cirebon melakukan kegiatan donor darah di RSUD Arjawinangun Cirebon. Selain menjadi Babinsa, Sanjija juga menjadi koordinator pendonor darah wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon.
"Saya tidak lupa dengan tugas tentara. Ketika masa damai atau tenang, tentara wajib membantu masyarakat dan pemerintah," kata Sanija kepada detikcom di RSUD Arjawinangun Cirebon, Selasa (23/1/2018).
Sanija selalu sibuk wara-wiri untuk mengajak masyarakat ikut aktif mendonor darah, ter utama kepada keluarganya. "Sejak datang ke Cirebon pada 2010 langsung aktif sebagai pendonor. Sebelumnya saya bertugas di Kalimantan Timur," ucapnya.
Sanija mulai aktif sebagai tentara pada 1995. Tanah Borneo menjadi wilayah pertama dirinya bertugas, tepatnya di Kalimantan Timur selama 15 tahun. Tujuh tahun lebih Sanija menyandang sebagai pendonor darah aktif. Bahkan, ribuan orang kini mengikuti jejaknya sebagai pendonor darah aktif di Cirebon.
"Saya memiliki data pendonor yang merupakan binaan saya sendiri, di Kabupaten Cirebon ada 7.000 orang dan di Cirebon ada 1.500 orang," kata Sanija yang saat itu ditemani istrinya, Sri Sarawati (44).
Dalam pikiran Sanija selalu terngiang tragedi nahas yang menewaskan keponakan istrinya sekitar tahun 1997. Saat itu, keponakannya yang masih berusia 10 tahun mendapat perawatan di salah satu RS yang berada di Samarinda. Kondisinya kritis, membutuhkan bantuan darah.
Namun, karena stok darah di RS tersebut langk a. Nyawa keponakannya pun tak tertolong. "Keponakan saya meninggal. Bantuan darahnya telat, lima menit setelah ponakan saya meninggal labu darah itu datang. Saya langsung sobek-sobek labu darah itu," katanya seraya tangannya mendemonstrasikan gerakan saat dirinya menyobek labu darah.
Kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi Sanija. Betapa pentingnya darah untuk hidup manusia. Sanija pun mulai aktif sebagai pendonor, agar kejadian yang menimpa ponakannya tak terjadi pada orang lain.
"Kalau sedang mendonorkan darah, kejadian itu masih ingat sekali," ucapnya.
Peduli Penderita Talasemia
Kesibukan Sanija tak hanya menjadi koordinator pendonor wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon. Sanija memiliki kepedulian terhadap para penderita talamesia di Cirebon.
Talamesia merupakan salah satu kelainan darah yang ditandai dengan sel darah merah yang tak normal. "Saya selalu sedih kalau melihat penderita talasemia. Mereka membutuhkan darah untuk bisa berta han hidup," kata Sanija.
Sanija pun merangkul sebanyak 290 penderita talasemia di Kabupaten Cirebon dan 55 penderita di Kota Cirebon. Sanija selalu wara-wiri mencari pendonor demi menolong para penderita itu.
"Memprihatinkan sekali. Kita selalu usahakan, malam-malam ada yang butuh kita cari pendonor," ucapnya.
Sanija menjadi fasilitator antara pendonor dengan penderita talasemia.
(avi/avi)Sumber: Google News | Warta 24 Seram Bagian Timur

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »