Film Yowis Ben, Angkat Potensi Malang - Warta 24 Maluku
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Film Yowis Ben, Angkat Potensi Malang

Film Yowis Ben, Angkat Potensi Malang


MALANG - Para pemeran Film Yowis Ben, yang 90 persen menggunakan Bahasa Jawa ini hadir di Kota Malang, kemarin. Film ini sangat istimewa karena berlatar Kota Malang sekaligus mengangkat potens…

Film Yowis Ben, Angkat Potensi Malang


MALANG - Para pemeran Film Yowis Ben, yang 90 persen menggunakan Bahasa Jawa ini hadir di Kota Malang, kemarin. Film ini sangat istimewa karena berlatar Kota Malang sekaligus mengangkat potensi wisata Malang Raya. Film ini juga ditulis sendiri oleh Arek Malang sekaligus Youtuber populer, Bayu Skak.
“ Ya memang ada yang bilang bahasanya yang dipakai kampungan lalu ada yang mengatakan bahasa Jawa bahasanya TKI lah. Film ini dibuat untuk melibas komentar-komentar tersebut. Bahwa Bahasa Jawa dan budaya orang-orangnya tidak akan pernah mati dan ditinggalkan walaupun orang berkata apa,” tegas Bayu dalam press conference cast film “Yowis Ben” kemarin di Café Java Dancer Malang Town Square.
Ia mengaku bahwa film ini pun terlahir dari keprihatinannya terhadap muda-mudi Indonesia saat ini yang kian meninggalkan bahasa ibunya sendiri. Te rlebih muda-mudi Tanah Jawa yang rela meninggalkan logat bahkan berganti logat dan tidak pernah lagi menggunakan bahasa daerah asalnya karena malu.
Bayu mengakui bahwa film yang sebagian besar dialognya menggunakan bahasa jawa ini bisa jadi tidak bisa diterima secara profit di seluruh daerah di Indonesia. Akan tetapi ia menyatakan bahwa inti dari film yang ia tulis tersebut bukanlah sekedar profit oriented belaka.
“Saya hanya ingin dengan melihat film ini warga kita bisa kembali mengingat bahasa daerahnya masing-masing. Dan menjadi inspirasi adanya film-film lain yang menggunakan bahasa daerah di lain tempat,” tegass pria yang bernama asli Bayu Eko Moektito ini.
Film “Yowis Ben” mengangkat cerita klasik tentang cinta anak muda di Kota Malang. Di mana seorang laki-laki yang duduk di bangku SMA, Bayu (diperankan Bayu Skak) yang kemudian jatuh cinta dengan teman sekolah dari ibu kota yakni Susan (diperankan Cut Meyriska).
Intrik hubungan Bayu dan Susan yang berl atar budaya dan bahasa yang berbeda inilah yang diangkat menarik dan kocak. Pasalnya Bayu yang merasa “pas-pas-an” harus bersaing dengan gebetan Susan yang lebih keren dan jago bermusik.
“Ya ngene iki wong jowo. Walaupun diejek-ejek tetap tidak akan mati tetap bangkit lagi dan membuktikan diri. Salah satunya film ini. Saya sendiri ingin mengangkat budaya dan bahasa jawa bahasa yang mudah dan mengkarabkan,” papar Bayu.
Bayu yang ditemani seluruh cast “Yowis Ben” kembali menegaskan bahwa film tersebut juga ingin mengangkat potensi-potensi yang ada di Kota Malang. Salah satunya mengangkat tempat wisata Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampun Tridi, kawasan Jalan Idjen sampai melesat ke Kota Batu.
Dengan memfokuskan latar Kota Malang inilah Bayu Skak sendiri ingin membuktikan bahwa kota kelahirannya punya hal yang membanggakan.
“Tapi tenang saja, kita kasi subtitle bahasa indonesia kok agar semua orang bisa nonton dan mengerti. Dan kita pun pakai bahasa jawa ya ng da[at dimengerti secara umum. Walaupun nulis naskah subtitlenya sampai empat hari ga turu,” tandas lulusan SMK Grafika ini. class="eliadunit"> Sementara itu Sutradara “Yowis Ben”, Fajar Nugros menjelaskan bahwa pertama dirinya membaca skrip film tersebut dirinya langsung tertarik. Pasalnya Fajar mengakui bahwa ide yang ditawarkan sangat berbeda.
“Memang agak kaget karena skripnya sebagian besar pakai bahasa jawa. Tetapi saya langsung tertarik karena ini berbeda. Lalu kami mulai mengerjakan, dan lama-lama jadi bahasa Malangan saya,” ucap Fajar sutradara asal Jogjakarta ini sambil tertawa.
Ia mengungkapkan bahwa perfilman Indonesia membutuhkan lebih banyak film-film seperti “Yowis Ben”. Di mana tema kedaerahan menjadi isu utama dan dibungkus dengan cerita klasik ringan sehari-hari.
Pasalnya, warga seluruh Indonesia dapat mengerti dan mengetahui bahwa budaya Indonesia sangatlah beragam dan kaya. Ia berharap film-film yang mengangkat pot ensi daerah dapat lebih banyak muncul untuk mewarnai blantika perfilman di Indonesia.
Beberapa cast lain seperti Brandon Salim pun mengakui dirinya tertarik mempelajari bahasa daerah lain setelah memerankan karakter Nando di Film” Yowis Ben”.
“Ya rasanya asik mengetahui dan mempelajari bahasa daerah orang. Apalagi Kota Malang ini sangat menarik ya. Saya kagum sekali dengan Kampung Warna-Warni. Orang-orangnya ramah-ramah,” tandas Brandon yang juga anak dari aktor Ferry Salim ini.
Menambahkan, Penulis Skenario, Bagus Bramanti mengatakan bahwa “Yowis Ben” merupakan film lokal dengan isu universal. Di mana, Bayu Skak sebagai aktor utama dapat menginisiasi semangat kedaerahan yang dikaitkan dengan pendekatan kekinian.
Sementara itu disela Meet And Greet Cast “Yowis Ben” kemarin, turut hadir sebagai bentuk support, enam perwakilan mahasiswa dari berbagai organisasi daerah (Orda) di Kota Malang.
Di antaranya Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Malang, Orda P egunungan Arfak Provinsi Papua Barat, Persatuan mahasiswa Maluku Tenggara Barat, Ikatan Kekeluargan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan Cabang Malang dan perwakilan Orda Aceh.
Orda Persatuan Mahasiswa Maluku Tenggara Barat, Kostantinus Naranlele menyatakan bahwa setiap karya anak bangsa yang mengangkat nilai-nilai lokal daerahnya masing-masing diapresiasi secara penuh. Dan sebagai muda-mudi, dirinya berbangga atas film yang digagas oleh pemuda yang masih memiliki kepedulian akan daerah asalnya.
Hal yang sama juga dilontarkan Ketua Umum Ikatan Kekeluargan Mahasiswa Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan Cabang Malang (Ikami Sulsel Cab. Malang), Muh Iksan. Ia mengatakan bahwa film Yowis Ben yang menuai komentar negatif di media sosial patut didukung.
“Indonesia memiliki kurang lebih 742 bahasa dan salah satunya bahasa jawa. Tentu dalam film yowis ben ini lebih dominan bahasa jawa dan lengkap dengan subtitilenya. Ini sangat baik karena jadi ajang pemeliharan bahasa lewat film,” pungkasnya. (ica/ary)Sumber: Google News | Warta 24 Maluku Tenggara Barat

Tidak ada komentar