Pulau Kisar di Maluku ternyata kaya akan lukisan purba - Warta 24 Maluku
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Pulau Kisar di Maluku ternyata kaya akan lukisan purba

Pulau Kisar di Maluku ternyata kaya akan lukisan purba

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL����������������������������������������������������������������������������������������������������������������������…

Pulau Kisar di Maluku ternyata kaya akan lukisan purba

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
Ilustrasi lukisan pada dinding gua batu.
Ilustrasi lukisan pada dinding gua batu.
© Pixabay

Periset dari Australian National University (ANU) di Canberra, Australia, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta telah menemukan sebuah pulau kecil tak berpenghuni di Indonesia dan belum pernah dieksplorasi oleh arkeolog, ternyata sangat kaya akan lukisan gua kuno yang berusia setidaknya 2.500 tahun.

Tim tersebut menemukan 28 situs seni batu kapur di Kisar, sebuah pulau dengan luas hanya 81 kilometer perseg i di kepulauan Maluku, sekitar 30 km utara Timor Leste. Semula, para periset melakukan dua ekspedisi ke Kisar pada tahun 2014 dan 2015, guna mencari tanda-tanda pendudukan manusia awal.

Pada tahun 2015 arkeolog dari ANU dan Universitas Gadjah Mada mensurvei pulau tersebut. Mereka kemudian dibuat tercengang melihat kekayaan seni lukisan batu prasejarah yang mereka temukan.

Lukisan-lukisan yang memanfaatkan pigmen warna merah ini menggambarkan perahu, anjing, kuda, dan orang-orang yang kebanyakan memegang senjata seperti kapak dan perisai. Pada lukisan lain tampak orang bermain drum, menunjukkan prosesi upacara.

Perahu Lene Cece.
Perahu Lene Cece.
© S. O'Connor /Australian National University
Anthropomorph memberi isyarat atas sinar matahari/drum.
Anthropomorph memberi isyarat atas sinar matahari/drum.
© S. O'Connor /Australian National University

Ada juga situs yang berhias cap telapak tangan yang diduga memiliki umur lebih tua dari lukisan figur lain.

Lukisan-lukisan batu itu ditemukan di dinding dan langit-langit terik batu kapur yang menjulang di pulau tersebut. Situs seni lukis di batu ini sering terlihat di atas garis pantai, dengan jarak beberapa ratus meter.

Arkeolog juga menggali beberapa situs dan menemukan tanda-tanda hunian manusia di bawah beberapa batu yang menggantung. Menunjukkan bahwa lokasi ini digunakan sebagai tempat perlindungan pada masa prasejarah.

"Secara arkeologi, belum pernah ada yang menjelajahi pulau kecil ini sebelumnya," kat a arkeolog Sue O'Connor, Profesor di ANU, kepada Live Science (26/12/2017). "Pulau-pulau di Indonesia merupakan jantung dari perdagangan rempah-rempah kembali ke ribuan tahun lalu."

Lukisan-lukisan itu sangat mirip dengan mural kuno yang ditemukan di Pulau Timor. Ini menunjukkan sejarah bersama yang lebih kuat antara keduanya daripada yang sebelumnya diketahui.

"Lukisan Kisar termasuk gambar yang sangat mirip dengan yang ada di ujung timur Timor-Leste," kata O'Connor.

"Ciri khas seni di kedua pulau ini adalah ukuran manusia dan hewan yang sangat kecil, kebanyakan berukuran kurang dari 10 cm," katanya, lalu menambahkan bahwa meski ukuran mereka kecil, lukisannya tampak sangat dinamis.

Sebuah makalah yang menggambarkan lukisan batu di lima situs yang ditemukan diterbitkan di Cambridge Journal of Archaeology. Lukisan-lukisan ini membantu menceritakan kisah sejarah perdagangan dan budaya kawasan tersebut.

Hubungan ant ara pulau Kisar dan Timor Lorosa'e kemungkinan bermula pada saat periode Neolitik 3.500 tahun yang lalu. Periode masuknya pemukim Austronesia (Malaysia, Filipina, Polynesia, dan Fiji) yang memperkenalkan hewan piaraan, seperti anjing, dan mungkin tanaman sereal, kata O'Connor.

Ia percaya bahwa gaya seni baru mungkin menunjukkan kemunculan elit sosial yang mendapatkan kekayaan mereka dari perdagangan barang-barang mewah, seperti drum perunggu kuno. Drum yang masih dianggap benda berharga sebagai pusaka oleh orang-orang di wilayah ini.

Drum Moko dari Pulau Alor dengan bintang matahari di bagian atas
Drum Moko dari Pulau Alor dengan bintang matahari di bagian atas
© S. Kealy /Australian National University

Drum--yang dikenal sebagai drum Dong Son sesuai nama situs penemuan pertama mereka di Vietnam--diperdagangkan di seluruh Asia Tenggara selama Zaman Perunggu.

Permukaan drum Dong Son yang mencolok sering dihiasi dengan pola Matahari. Pola serupa adalah ciri umum dari seni lukis batu di Kisar dan Timor.

Mereka mungkin menunjukkan Matahari itu sendiri, atau mungkin pola pada drum tertentu yang menandakan kelompok suku yang berbeda.

"Lukisan-lukisan ini mungkin menggembar-gemborkan pengenalan sistem simbolis baru yang didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, menyusul pertukaran barang-barang mewah dan awal dari sistem hierarkis masyarakat," ujar O'Connor.

Dia mengatakan bahwa barang-barang mewah Zaman Perunggu, seperti drum Dong Son, mungkin telah diperdagangkan sebagai alat pertukaran dengan rempah-rempah langka seperti pala dan cengkeh, yang sebelumnya hanya ditemukan di pulau-pulau ini.

"Drum akan menjadi contoh benda logam mewah yang mungkin telah dipertuka rkan dengan pemimpin setempat untuk mengamankan hubungan perdagangan," kata O'Connor.

"Hari ini di beberapa pulau seperti Timor-Leste dan Kei (dua dari banyak pulau di mana drum Dong Son telah ditemukan), drum tersebut dipuja oleh penduduk desa setempat dan masih digunakan dalam upacara dan upacara peralihan."

Sumber: Google News | Warta 24 Maluku Tenggara

Tidak ada komentar