Perjuangan Shulhan Rumaru, Pegiat Literasi untuk Anak-Anak di ... - Warta 24 Maluku
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Perjuangan Shulhan Rumaru, Pegiat Literasi untuk Anak-Anak di ...

Perjuangan Shulhan Rumaru, Pegiat Literasi untuk Anak-Anak di ...

HomeNewsKampus Perjuangan Shulhan Rumaru, Pegiat Literasi untuk Anak-Anak di Pelosok Maluku Susi Fatimah, Jurnal…

Perjuangan Shulhan Rumaru, Pegiat Literasi untuk Anak-Anak di ...

  • Home
  • News
  • Kampus
Perjuangan Shulhan Rumaru, Pegiat Literasi untuk Anak-Anak di Pelosok Maluku Susi Fatimah, Jurnalis · Senin 11 Desember 2017, 20:41 WIB https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 11 65 1828745 perjuangan-shulhan-rumaru-pegiat-literasi-untuk-anak-anak-di-pelosok-maluku-wBryMyS7gd.jpgFoto: Istimewa A A A

Namanya Shulhan Rumaru, bagi masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, dia adalah contoh pemimpin inovasi jaman now. Sebab, di saat banyak anak muda sekarang ini sibuk bermain gadget, jalan-jalan ke mal, travelling ke spot-spot indah dalam dan luar negeri, dan kegiatan hedonis lainnya, hal sebaliknya justru dilakukan oleh pemuda kelahiran Geser, Maluku, 28 tahun silam ini.

Usai menempuh pendidikan S-1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan berkarier sebagai editor di Kompasiana selama tiga tahun, rupanya tak membuat hati penikmat puisi dan kajian media itu bahagia. Ada kegelisahan yang dialaminya saat mengingat kampung halamannya yang berada di pelosok masih tertinggal dalam hal pendidikan.

BERITA TERKAIT +
  • Kisah Anak Petani Padi dan Palawija Meraih Doktor Termuda IPB
  • Sekolah Ujung Jari, Kisah Perjuangan Penyandang Tunanetra untuk Pendidikan Lebih Baik
  • Sempat Ingin Jual Ginjal, Pria ini Sukses Perkenalkan Kekayaan Indonesia di Ajang Internasional

Kabupaten Seram Bagian Timur merupakan lokasi yang berada di pelosok. Untuk mencapai lokasi ini, dari Kota Ambon kita harus melakukan perjalanan selama 14 jam menggunakan mobil, 14 jam juga bila menggunakan transportasi laut dan 45 menit menggunakan pesawat dengan biaya yang tidak sedikit.

“Naik kapal Pelni KM Sangiang, 12 jam tapi kapal ini se bulan sekali masuk ke Seram Bagian Timur. Pakai mobil lama waktu 12 jam, sebelumnya mobil harus menyebrang Teluk Ambon-Pulau Seram dengan ferry selama dua jam. Untuk pesawat selama 45 menit tetapi harus dijemput dengan mobil sewaan atau mobil pribadi karena di sekitar bandara tidak ada mobil,” ujar Shulhan dalam pesan singkatnya kepada Okezone.

Di wilayah Seram Bagian Timur banyak anak-anak tidak menempuh pendidikan tinggi. Jangankan untuk menempuh pendidikan tinggi, pendidikan dasar pun angka partisipasinya masih minim. Berdasarkan data Dinas Pendidikan setempat, sebanyak 24,22% siswa di wilayah tersebut tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), sementara 68,14 % tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Hal ini tentu membuat miris. Salah satu faktornya yaitu rendahnya kesadaran para orangtua akan pentingnya pendidikan bagi anak. Belum lagi, keberadaan sekolah di daerah ini sangat minim dan jarak sekolah cukup jauh. Ditambah , sarana dan prasarana di sekolah yang juga terbatas.

Seperti di Desa Keta, sekolah formal di desa ini hanya ada satu. Untuk ke sekolah, para siswa harus ke kampung sebelah dengan jarak 5-7 Km. Sejak pagi buta mereka sudah berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.

“Jalan kaki dengan kondisi jalan yang sempit dan kadang dihadang babi hutan juga,” cerita Shulhan.

Sementara di Kwaos untuk Sekolah Dasar (SD) hingga Madrasah Aliyah sudah ada. Hal yang sama juga sudah ada di Suru, namun sayangnya tiap sekolah tidak memiliki perpustakaan. Bangunan sekolah masih beralaskan semen, kursi dan mejanya pun masih terbatas. Bila musim hujan datang, bangunan sekolah bocor karena atapnya yang tidak maksimal. Sementara itu, kondisi SMP di Suru berada di dalam hutan yang jauh dari perkampungan warga. Siswa yang berangkat sekolah untuk menuntut ilmu terpaksa harus menyebrang sungai. Begitu juga Madrasah Aliyah jaraknya mencapai 2 Km dan berada di perbukitan yang jauh dari kampung.

Berangkat atas keprihatinan tersebut, Shulhan yang baru saja meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke Amerika Serikat itu tergerak hatinya untuk mendirikan tiga komunitas di kampungnya. Ia membuat Taman Baca Keta pada 16 Februari 2016 dan Rumah Baca Suru pada 27 Juni 2017. Dua komunitas ini merupakan komunitas pendidikan untuk meningkatkan minat baca anak-anak di Desa Suru dan Desa Keta. Anak-anak di sini masih sangat minim pengetahuan dan sarana prasarana yang terbatas. Usai didirikan, dua lokasi taman baca ini ramai dikunjungi anak-anak setiap harinya. Para orangtua pun bahagia lantaran di desa mereka ada taman baca untuk anak-anak.

“Warga kadang curhat sampai nangis-nangis karena bersyukur ada Taman Baca Keta. Saat aku dan Firman (sepupu) lolos beasiswa LPDP, warga disana langsung bikin pengajian dan syukuran,” ungkap Shulhan terharu.

Di Taman Baca Keta dan Rumah Baca Suru, anak-ana k bisa melakukan banyak aktivitas. Selain bisa membaca aneka ragam buku mulai dari buku novel, komik, majalah, koran dan lain-lain, para volunteer di dua komunitas itu juga rajin membuat kegiatan agar anak-anak semakin rajin datang ke taman baca dan rumah baca tersebut dan tak bosan. Bahkan dalam waktu tiga minggu, tim Rumah Baca Suru berhasil menerima donasi sebanyak 1.000 buku. Buku-buku tersebut merupakan sumbangan dari para donatur yang berasal dari berbagai latar belakang seperti dosen, karyawan, profesional dan juga dari berbagai komunitas.

“Sekarang kami sedang mempercantik perpustakaan yang sebenarnya itu ruang tamu di rumah om saya,” tutur anak sulung dari empat bersaudara itu.

Tak berhenti sampai disana, untuk mempercantik ruang perpustakaan, ia juga menggerakan masyarakat sekitar untuk urun sumbangan bahan-bahan pembuatan meja dan rak perpustakaan. Diantara para warga itu, ada yang menyumbang satu sampai dua pohon untuk ditebang dan dijadikan papan dan k ayu sesuai kebutuhan rak buku dan meja belajar.

“Ada juga yang sumbang cat, guru-guru di kampung sumbang paku, triplek, dan kayu. Ada warga yang sumbang bahan untuk buat plafon dan lain-lain,” katanya menjelaskan.

Sementara di komunitas Taman Baca Keta, Shulhan yang terlibat sebagai fasilitator melakukan sejumlah program yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Amerika untuk Surabaya dalam program Community Based Education Program selama tiga bulan dengan

rincian kegiatan Training untuk relawan literasi pendidikan di Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, lalu Kemah Pendidikan yang melibatkan 250 siswa dan 40 relawan muda setingkat SMA/SMK/MA.

Tak hanya bergerak dalam literasi pendidikan, Shulhan juga mendirikan komunitas Komunitas Klinik Apung. Didirikannya Komunitas Klinik Apung berawal dari kisah pilu yang dialami seorang warga Desa Suru yang meninggal dunia karena penyakit kuning dan terlambat dalam mendapatkan penanganan medis . Bagaimana tidak, untuk mendapatkan perawatan medis yang memadai, warga harus menyebrang ke kampung seberang tepatnya ke Puskemas di Pulau Geser dengan menggunakan perahu. Namun bila cuaca buruk tepatnya saat musim Ombak Timur, warga tidak bisa menyebrang menggunakan perahu. Hal ini tentu menjadi hambatan tersendiri.

“Saat itu, tak ada long boat dan speed boat yang bisa keluar kampung untuk mengantarkannya. Alhasil dia meninggal setelah berobah ala tradisional dan menahan sakit lama kurang lebih dua Minggu. Setelah meninggal, dia dikuburkan dengan kain kaftan pinjaman dari tetangga karena keluarga tidak bisa kemana-mana untuk membeli kain kaftan,” cerita Shulhan saat mengenang peristiwa pilu itu.

Tak hanya itu, alasan lain Shulhan mendirikan Komunitas Klinik Apung adalah karena banyak kisah pilu lainnya seperti warga sakit namun salah dalam penanganan medis dan lain-lain. Ia pun menggerakan saudaranya yang berprofesi sebagai suster, adik kandungnya yang berprofesi bidan serta tetangganya yang merupakan seorang dokter untuk bergabung dan mengelola Klinik Apung ini. Langkahnya semakin terbuka luas saat keluarganya dan Kepala Desa Suru menyerahkan long boat dan speed boat untuk dijadikan ambulance apung.

Warga menyambut antuasias hadirnya Klinik Apung ini. Bahkan warga banyak yang meminta Klinik Apung dibuka ditiap kecamatan. Namun karena minimnya sarana transportasi dan komunikasi, Shulhan belum bisa memujudkan pembuatan Klinik Apung di tiap kecamatan. Kendati demikian, Klinik Apung yang berada di Kwaos itu sudah bergerak di seluruh kampung di kecamatan Siritaun Wida Timur dan Lian Vitu. Sebab di daerah tersebut sudah banyak sarjana kesehatan.

“Banyak sarjana kesehatan yang mau gabung. Dengan gabung di Klinik Apung, mereka bisa terapkan ilmu mereka dengan cara menjadi sukarelawan,” tuturnya.

Dalam perjalanannya, Komunitas Klinik Apung sudah melakukan sejumlah kegiatan seperti konsultasi dan pengobatan gratis di tiga de sa, kegiatan amal kolaboratif antar-komunitas berupa sunatan massal gratis, literasi hidup sehat lewat social media hingga penyediaan ambulance apung.

Rencana kedepan, sambung Shulhan, setiap desa memiliki satu buah apotek yang dapat memenuhi kebutuhan obat-obatan bagi warga. Namun sayangnya, hingga kini ia belum mendapat donatur yang pas untuk mewujudkan impiannya yang satu ini.

Selain itu, Shulhan bersama dua temannya yaitu Robi Ardianto dan Abdul juga membuat penerbit indi yang diberi nma Arts Publishing. Penerbitan ini dimaksudkan untuk amal. Mereka mencetak buku berjudul “Kumpulan Cerpen Alumni Darussalam” sebanyak 1.500 buku yang dibagikan ke seluruh Indonesia secara gratis, mulai dari Ciamis, Garut, NTB, NTT, Papua Barat, Manokwari, Ambon, Bandung dan Jakarta.

“Buku ini diresensi oleh seorang mahasiswa S-3 yang bermukim di London, Inggris,” katanya.

Usai menjalani studi magister di Negeri Paman Sam, Shulhan berencana kembali mengabdi dan berkontributif untuk tanah kelahirannya. Baginya, perjuangan tak akan berhenti sampai di sini, namun terus berkelanjutan.

“Saya juga ingin mengajar sebagai dosen di Universitas Pattimura dan IAIN Ambon, khususnya di bidang ilmu komunikasi. Di luar itu, saya ingin berdampak bagi lingkungan sosial di zona masyarakat akar rumput dengan tetap fokus pada model gerakan-gerakan voluntarisme, seperti sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk kemanusiaan,” tutupnya.

Sebelumnya 1 / 4 Selanjutnya

Berita Lainnya

  • KALEIDOSKOP 2017: Masih Maraknya Kasus Kekerasan terhadap Siswa

    KALEIDOSKOP 2017: Masih Maraknya Kasus Kekerasan terhadap Siswa

  • KALEIDOSKOP 2017: Pendidikan Indonesia Masih Sangat Memprihatinkan

    KALEIDOSKOP 2017: Pendidikan Indonesia Masih Sangat Memprihatinkan

  • Kuliah Sambil Bekerja, Manajemen Waktu Jadi Kunci Sukses Emil Faizza

    Kuliah Sambil Bekerja, Manajemen Waktu Jadi Kunci Sukses Emil Faizza

  • 5 Tips Membuat Surat Lamaran Tampil Beda

    5 Tips Membuat Surat Lamaran Tampil Beda

  • 5 Tips Membuat Surat Lamaran Tampil Beda

    5 Tips Membuat Surat Lamaran Tampil Beda

  • Peneliti IPB Ciptakan Suplemen Minyak Ikan Patin untuk Lansia

    Peneliti IPB Ciptakan Suplemen Minyak Ikan Patin untuk Lansia

  • Miliki Segudang Talenta Antarkan Dhea Jadi Wisudawan Terbaik FH Unair

    Miliki Segudang Talenta Antarkan Dhea Jadi Wisudawan Terbaik FH Unair

  • 5 Kiat Sukses Menjadi Pekerja Perempuan yang Sukses

    5 Kiat Sukses Menjadi Pekerja Perempuan yang Sukses

Berita Terkait

Kisah Inspiratif
    Oman, Sang Mentari bagi Anak Petani Penggarap di Selatan Karawang‎ ‎
  • Kisah Mantan Pecandu Narkoba 'Tebus Dosa' dengan Bersepeda dari Bandung-Bali
  • Keren! Selain Cantik, Kepintaran Gadis Ini Saingi Albert Einstein
  • Kisah Hebat Pelajar SD Kumpulkan Beras untuk Bedah Rumah Tak Layak Huni
  • Menggapai Mimpi dari Papua ke Amerika
  • Luar Biasa! Gadis Suriah 13 Tahun Menangkan Prizewinning Poet 2017
  • Kisah Bripka Andarias Simbiak, Rela Jadi Guru di Daerah Terpencil Papua
  • Keren! Bripka Joni Albert Sulap Kendaraan Rongsok Menjadi Perp ustakaan Keliling
  • Kisah Ratri, Dosen yang Mengoleksi 3.279 Penghapus dari Dalam dan Luar Negeri
  • Jempol! Mahasiswa asal Surabaya Ini Kuliah Sambil Berbisnis, Nih Kisahnya
Cari Berita Lain Di Sini Sumber: Google News | War ta 24 Seram Bagian Timur

Tidak ada komentar